Kamis, 18 April 2013

Pendidikan Bimbingan Konseling Kelompok Teori Adlerian


MAKALAH
BIMBINGAN DAN KONSELING KELOMPOK
TEKNIK KONSELING KELOMPOK ADLERIAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan Konseling Kelompok
Dosen pengampu: Arum setiowati,M.Pd



Disusun Oleh:
                                    Akhyu Nur Aji Barkah                                10144200261
  Dwi Renang Anjas Prihambodo                   10144200263
                       
A4



PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas segala limpahan rahmat dan pertolongan-Nya, akhirnya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Teknik konseling kelompok adlerian. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah bimbingan konseling kelompok.
Dalam menyelesaikan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini izinkan penyusun untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penyusun sangat menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyajian makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan guna perbaikan penulisan makalah selanjutnya. Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun, umumnya bagi pembaca.


Yogyakarta, 5 april 2013


Penyusun











BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Adler merupakan salah satu teoris besar dalam psikologi kepribadian yang telah mengembangkan Konseling Adlerian bersama para pengikutnya berdasarkan teori psikologi individual Adler . Konsep-konsepnya revolusioner dan menampilkan sisi kemanusiaan yang utuh dalam dialektikanya. Adler awalnya merupakan anggota bahkan sebagai ketua Masyarakat Psikoanalisis Wina yang merupakan organisasi pengembang teori Freud, namun kemudian memisahkan diri karena mengambangkan ide-ide dan konsepnya sendiri.
Konsep yang dikembangkan oleh Adler memiliki perbedaan yang substansial dengan teoris Freud. Adler yang berlatar belakang pendidikan dokter kemudian mengembangkan suatu teori yang spesifik yang disebutnya psikologi individual. Teori Adler ini sangat menekankan peranan ego dan kontekstualitas sosial dalam gerak dinamika kehidupan manusia.
Dari beberapa sumber, diperoleh keterangan bahwa selama perang dunia I, Adler bekerja sebagai dokter pada laskar tentara Austria dan sesudah perang, dia tertarik pada bimbingan anak-anak dan mendirikan klinik bimbingan pertama yang berhubungan dengan sistem aliaran Wina. Dia juga mendorong berdirinya aliran eksperimental di wina yang menerapkan teorinya di bidang pendidikan (Furtmuller, dalam Hall & Lindzey, 1993).

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi konseling adlerian ?
2.      Apa sistem teori yang dilakukan oleh adler ?
3.      Apa sajakah aplikasi yang dilakukan oleh adler ?

C.    Tujuan Penelitian
1.    Untuk mengetahui konsep dari teori adlerian
2.    Untuk mengetahui definisi dari teori adlerian
3.    Untuk memahami aplikasi dari teori adlerian


PROFIL DARI ADLER
Alfred Adler lahir di pinggiran Wina pada tanggal 7 Februari 1870 sebagai anak ketiga dari seorang pengusaha Yahudi. Sewaktu kecil, Adler sering sakit-sakitan sehingga baru bisa berjalan pada usia 4 tahun. Bahkan, Adler sempat akan tewas pada usia 5 tahun karena pneumonia.
Ketika sekolah, Adler adalah seorang anak dengan kemampuan rata-rata dan menyenangi permainan di luar ruangan ketimbang diam dalam ruang kelas. Dia sering keluar rumah, dikenal luas oleh teman-temannya dan aktif. Salah satu alasan dia terkenal di antara teman-temannya, adalah karena dia ingin menyaingi kakaknya, Sigmund.
Adler menerima ijazah dokter dari Universitas of Vienna pada tahun 1895. Selama kuliah, dia bergabung dengan mahasiswa sosialis dan disinilah, dia berkenalan dengan gadis yang kelak jadi istrinya, Raissa Timofeyewa Epstein. Raissa adalah seorang gadis pintar dan aktivis sosial yang datang dari Rusia. Mereka menikah pada tahun 1897, mempunyai 4 anak. 2 orang diantaranya menjadi psikiatris.
Adler, memulai karirnya sebagai seorang optamologis, tapi kemudian beralih pada praktik umum biasa. Ia membuka praktik di daerah kelas bawah di Wina, Prader, dimana merupakan tempat campuran antara taman bermain dan sirkus.Berawal dari pasien-pasiennya yang merupakan anggota sirkus, Adler merumuskan konsep tentang inferioritas organ dan kompensasi. Dia mengamati bahwa para pemain sirkus memiliki kekuatan dan kelemahan dalam berbagai bidang.
Setelah merumuskan konsep tersebut, Adler beralih pada psikiatri dan pada tahun 1907, ia bergabung dengan kelompok diskusi Freud. Setelah menulis beberapa makalah tentang inferioritas organik, yang agak sejalan dengan pendapat Freud, untuk kali pertama, ia menulis tentang insting perusak yang tidak disepakati Freud. Ia juga menulis tentang perasaan inferioritas anak-anak yang memakai konsep-konsep seksual Freud secara metaforis, bukan secara harfiah.
Walaupun Freud mengangkat Adler sebagai presiden Viennese Analytic Society dan ko-editor dari terbitan berkakala organisasi ini, Adler tetap mengkritik pandangan Freud. Perdebatan antara pendukung Adler dan Freud pun diadakan, tapi berakhir dengan keluarnya Adler dan 9 orang anggota lain. Mereka mendirikan The Society for Free Psychoanalisys pada tahun 1911. Tahun berikutnya, organisasi ini berubah menjadi The Society for Individual Psychology.
Saat Perang Dunia I berlangsung, Adler ditugaskan sebagai Fisikawan dalam Angkatan Bersenjata Austria, yang tugasnya berada di garis depan yang berbatasan dengan Rusia. Kemudian, Adler dipindahkan ke rumah sakit anak-anak. Disini, dia menyaksikan apa akibat buruk peperangan, dan inilah yang membawa pemikirannya ke arah konsep kepentingan sosial. Dia berpendapat, bahwa kalau kemanusiaan ingin dipertahankan, manusia harus mengubah cara hidupnya.
Setelah perang usai, dia terlibat dalam berbagai proyek, termasuk klinik-klinik yang didirikan di sekolah-sekolah negeri dan melatih para guru. Tahun 1926, Adler pergi ke AS untuk mengajar dan menerima jabatan sebagai Profesor tamu di Long Island College of Medicine. Tahun 1934, Adler sekeluarga meninggalkan Wina. Hingga akhirnya, pada tanggal 28 Mei 1937, dia meninggal akibat serangan jantung.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI KONSELING ADLERIAN
            Teori konseling Adlerian didasarkan pada teori psikologi individual yang dikembangkan oleh Alfred Adler dan pengikut-pengikutnya. Adler pada awalnya adalah murid Freud dan seorang psikoanalisis yang kemudian memisahkan diri karena berbeda pendapat dengan Freud dalam beberapa hal. Salah satu pandangan Freud yang tidak disetujui oleh Adler adalah peran aspek biologis dan fisiologis sebagai determinan penting pada perilaku dan perkembangan manusia. Meskipun Adler memiliki pandangan yang sama dengan Freud berkenaan dengan pengalaman anak-anak sebagai determinan perkeembangan perilaku kemudian, namun ia lebih memperluasnya dengan cara menambahkan determinan lain seperti pengaruh konteks social, dinamika keluarga dan pengasuhan anak.
Dalam perkembangannya, teori ini disebut konseling Adlerian, yakni teori yang dikembangkan oleh Adler bersama dengan pengikut-pengikutnya. Teori ini menekankan pada keutuhan (unity) dan keunikan individual. Pemahaman terhadap perilaku dan perkembangan manusia harus dimulai dengan memahami tujuan dan dorongan-dorongan perilakunya, konstelasi keluarga, dan gaya kehidupannya. Teori ini menekankan pada minat social dan tujuan hidup manusia, serta pada analisis kesadaran. Berdasarkan karakteristik tersebut teori Adlerian digambarkan sebagai bersifat socio-teleo-analytic. 
B.     TUJUAN TEORI ADLER
Tujuan dari konseling Adler adalah untuk membentuk manusia dewasa yang utuh dan sehat secara pribadi dan sosial (Well-Functioning). Manusia dewasa yang sehat dikonseptualisasikan sebagai individu yang mempelihatkan kemandirian baik secara fisik maupun emosi, produktif, dan mampu menjalin kerja sama dengan orang lain baik untuk mencapai tujuan pribadi maupun tujuan sosial. manfaat dari konseling kelompok Adlerian adalah dapat meningkatkan keberanian, mengurangi perasaan inferior, dan mendorong berkembangnya minat sosial konseli.
C.    MANFAAT TEORI ADLER
Manfaat dari konseling kelompok Adlerian adalah dapat meningkatkan keberanian, mengurangi perasaan inferior, dan mendorong berkembangnya minat sosial konseli.Dreikurs dalam Supriatna (2003) menguraikan tahap konseling kelompok pendekatan Adlerian yaitu:

a.       Membangun dan memelihara hubungan terapiutik yang tepat.
b.      Mengeksplorasi dinamika-dinamika dalam diri individu.
c.       Mengkomunikasikan suatu pemahaman diri kepada individu, dan
d.      Membuka alternatif-alternatif dan pilihan-pilihan dengan menggunakan teknik menggali   masa lalu, gaya hidup, dan menganalisis konstelasi keluarga
D.    PERSPEKTIF HISTORIS
Konseling Adlerian di kembangkan oleh Alfred Adler dan para pengikutnya berdasarkan teori psikologi individual Adler. Pada awalnya Adler adalah murid Freud yang kemudian memisahkan diri bersama- sama dengan murid Freud yang lain, Carl G Jung, karena tidak sependapat dengan dengan beberapa konsep teortik freud khususnya tentang seksualitas dan determinan biologis atau genetik Jung sendiri juga mengembangkan suatu teori psikologi yang agak berbeda dengan Freud, yang ia beri nama psikologi analitik. Antara teori Freud dan Adler memiliki perbedaan dalam beberapa hal. Teori freud memusatkan perhatian pada psikodinamika individual pada individu-individu neurotik, sedangkan Adler lebih memusatkan perhatian pada bidang sosial dan politikdan masyarakat umum.

Pandangan Adler menekankan pada kebulatan kepribadian ( unity of personality ) yang menegaskan bahwa manusia hanya dapat di pahami sebagai suatu entitas yang lengkap dan utuh. Pandangan ini mendukung sifat keterahan perilaku ( pada tujuan tertentu ), yang menegaskan bahwa apa yang ingin dituju atau di capai oleh manusia adalah lebih penting daripada apa yang di tinggalkan atau darimana mereka berasal. Adler juga memandang manusia sebagai ciptaan dan pencipta kehidupannya sendiri: dalam arti bahwa setiap manusia mengembangkan gaya hidup yang unik untuk mencapai tujuan tertentu. Gaya hidup tersebut juga sebagai ekspresi dari tujuan yang ingin dicapainya. Dengan kata lain, apa yang terjadi pada diri kita merupakan hasil ciptaan ( tindakan ) kita sendiri dan bukan hasil dari bentukan pengalaman masa kanak-kanak.
Adler meninggal pada tahun 1973, tetapi ajaarannya masih terus di lanjutkan dan di sebar luaskan oleh Rudolph Dreikus di kawasan Amerika Serikat, khususnya penerapan di dunia pendidikan. Konseling individual, konseling dan kelompok dan konseling keluarga. Minat terhadap ajaran Adler mulai muncul dan berkembang ketika banyak lembaga masyarakat maupun institusi nasional dan internasional menawarkan pelatihan dalam teknik-teknik Adlerian ( Corey, 1985). Bahkan pada tahun 1977, terdapat suatu organisasi  Adlerian di beberapa Negara seperti Austria, Denmark, Prancis, Jerman, Inggris, Junani, Israel, Italia, Swiss, dan Amerika ( Manester & Corsini, 1982 ).

KONSEPSI TENTANG MANUSIA
Adler meyakini bahwa individu memulai hidupnya dengan kelemahan fisik yang mengaktifkan perasaan inferior. Inferiorita bagi Adler diartikan sebagai perasaan lemah dan tidak cakap dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan. Inferiorita merupakan suatu perasaan yang menggerakkan orang untuk berjuang menjadi superiorita.
Pada tahun 1908, Adler (Hall & Lindzey, 1993) telah mencapai kesimpulan bahwa agresi lebih penting dari pada seksualitas. Kemudian impuls agresi itu diganti dengan ‘hasrat akan kekuasaan’. Adler mengidentifikasikan kekuasaan dengan sifat maskulin dan kelemahan dengan sifat feminim. Pada tahap pemikiran inilah dia mengemukakan ide tentang ‘protes maskulin’, yaitu suatu bentuk kompensasai berlebihan yang dilakukan baik oleh pria maupun wanita, juga mereka merasa tidak mampu dan rendah diri. Kemudian, Adler menggantikan ‘hasrat akan kekuasaan’ dengan ‘perjuangan ke arah superioritas yang tetap dipakainya untuk seterusnya. Jadi, ada tiga tahap dalam pemikiran Adler tentang tujuan final manusia, yaitu menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior.
Superioritas menurut Adler merupakan suatu gerak yang mengarahkan manusia ke jenjang yang lebih sukses, terutama kesuksesan dalam konteks sosial. Hal ini kemudian diistilahkannya dengan ‘perjuangan menjadi sukses’, suatu perjuangan yang dilandasi oleh motivasi sosial yang kuat yang telah berkembang sebelumnya. Adler menegaskan bahwa perjuangan ini pada dasarnya merupakan bawaan, bahwa ia menjadi bagian internal dari hidup, bahkan merupakan hidup itu sendiri. Lebih lanjut, dia berasumsi bahwa semua perjuangan tersebut-meski memiliki motivasi yang berbeda-, tetapi semuanya diarahkan menuju tujuan final (final goal).

E.     POKOK-POKOK TEORI
      Sistem teori konseling Adlerian lebih menekankan pada determinan sosial dalam membentuk perilaku, alih-alih faktor –faktor biologis. Pendekatan Adler juga dikatakan bersifat teleologis. Pandangan teleologis ini mengimplikasikan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang termotivasi oleh dorongan-dorongan untuk mencapai tujuan tertentu yang memiliki dimensi sosial. Berikut ini akan di paparkan dua aspek penting dalam teori konseling Adlerian yang meliputi pandangan tentang sifat dasar manusia dan sistem teori secara garis besar.


1.      Pandangan tentang sifat dasar manusia
Seperti halnya Freud, Adler juga mengakui pentingnya masa lima tahun pertama kehidupan dalam mempengaruhi perkembangan manusia. Namun, meskipun ia mengakui bahwa faktor-faktor biologis dan fisiologis memberikan arahan  pada perkembangan, individu juga memiliki kemampuan bawaan untuk mengarahkan dirinya sendiri. Bagi Adler, faktor bawaan dan pengalaman awal kurang penting dibandingkan dengan “ apa yang dilakukan oleh individu pada dirinya. “ Seligman, 2001: 78). Adler memiliki keyakinan bahwa semua perilaku selalu terarah pada suatu tujuan ( goal Directed ) dan bahwa manusia dapat menyalurkan perilakunya dalam cara-cara yang mendorong perkembangan. Bagi Adler apa yang penting bagi manusia adalah mencapai keberhasilan dan menemukan makna kehidupan. Upaya ke arah itu menjadi faktor penentu perkembangan.
Adler juga memandang manusia sebagai memiliki dorongan untuk  menjadi orang yang berhasil. Adler juga memiliki keyakinan bahwa perilaku manusia harus dipelajari dari sudut pandang yang holistik. Pada usia antara 4-5 tahun, anak-anak sudah memiliki kesimpulan umum tentang hidup dan cara yang “ terbaik” untuk menghadapi masalah hidup. Mereka mendasarkan kesimpulan itu pada persepsi yang biasa tentang peristiwa-peristiwa dan interaksi yang terjadi atau berlangsung disekelilingnya dan kemudian membentuk suatu landasan bagi gaya hidupnya( Lifestyl ). Gaya hidup ini bersifat unik pada setiap individu dan mempresentasikan pola-pola perilaku yang akan menjadi dominan di sepanjang kehidupannya. Gaya hidup ini jarang sekali dapat berubah tanpa adanya intervensi dari orang lain. Konstelasi keluarga dan urutan kelahiran memberikan pengaruh yang kuat pada pembentukan gaya hidup ini.
Adler juga memandang manusia memiliki minat sosial yang bmenjadi barometer bagi mental yang sehat ( Adler,1938,1964 : dalam Thompson, Rudolph,&Henderson,2004). Minat sosial di konseptualisasikan sebagai suatu bentuk perasaan terhadap dan kooperasi dengan orang lain, suatu perasaan untuk memiliki dan terlibat dengan orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan umum kemasyarakatan.
2.      Sistem teori
a.       Teori Adler diklasifikasikan ke dalam perspektif fenomenologis
Meskipun Adler adalah seorang psikodinamik,namun teori psikoindividualnya dapat dimasukkan ke dalam perspektif fenomenologis. Karakteristik fenomenologis ini tampak dari pandangan Adler yang menekankan pentingnya persepsi subyektif individu terhadap realita. Bagi Adler kerangka acuan internal atau persepsi subyektif individu lebih penting daripada realitas obyektif. Dalam hal ini Adler melihat setiap orang adalah individu yang unik dan hanya dengan memahami persepsi subyektif individu tentang lingkungan, logika pribadi, gaya hidup, dan tujuan hidupnya maka kita dapat sepenuhnya memahami siapa jati diri individu tersebut. Inilah esensi psikologi individual Adler. Kita juga dapat memahami teori konseling Adlerian dari konsep-konsep Adler tentang rasa percaya diri,konstelasi keluarga, gaya hidup, dan minat sosial. Berikut adalah uraian tentang konsep-konsep tersebut.

b.      Teori Adlerian bersifat Holistik
Pendekatan Adlerian didasarkan pada  suatu pandangan holistik tentang manusia. Kata individual dalam konstruk “ psikologi individual” bukan mengimplikasikan bahwa pendekatan ini memusatkan perhatian pada individu. Tetapi memandang individu sebagai satu kesatuan (unity) yang dalam hal ini diidentikkan dengan kebulatan ( wholeness). Menurut Adler, manusia tidak bisa di pisahkan atau di bagi-bagi ke dalam bagian-bagian yang diskrit, dan oleh karenanya kepribadian merupakan suatu kesatuan ( unified) dan dapat dipahami hanya jika di pandang sebagai satu kebulatan. Satu implikasi dari pandangan ini adalah bahwa konseli di pandang sebagai suatu bagian integral dari sebuah sistem sosial. Konselor Adlerian harus memusatkan perhatian pada fraktor-faktor interpersonal ( bukan intrapersonal) dan situasi sosial konseli.

c.       Perasaan rendah diri ( inferioritas ) sebagai determinan perilaku / perkembangan
Perasaan rendah diri ( inferiority) merupakan satu dimensi dari tahun-tahun awal kehidupan yang diyakini oleh Adler menjadi faktor yang memainkan peran penting dalam mempengaruhi perkembangan manusia. Perasaan ini hampir di alami oleh semua anak. Pada awalnya setiap anak mempersepsi dirinya sebagai entitas yang begitu kecil dan tak berdaya, khususnya jika dibandingkan dengan orang tua dan saudara-saudara mereka.
Di samping perasaan rendah diri, cara-cara yang digunakan oleh anak-anaak untuk  menangani perasaan rendah dirinya juga menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi perilaku dan perkembangan dirinya sebagai contoh, anak yang menangani perasaan rendah dirinya dengan cara melibatkan dirinya dengan orang lain, membentuk kemampuan, dan membuat pilihan yang kreatif cenderung lebih dapat mencapai perkembangan yang sehat. Sebaliknya, anak yang manja dan tidak mau berjuang untuk memperoleh kemampuan diri cenderung sulit untuk mencapai perkembangan yang positif. Mereka ini menjadi tak berdaya , tergantung, dan mudah menyerah. Jadi dalam konstrruk Adlerian, perasaan rendah diri bukan merupakan suatu keadaan yang negatif tetapi justru menjadi motivasi untuk menguasai lingkungan. Kita berusaha menangani perasaan rendah dengan menemukan cara-cara yang dapat kita gunakan untuk mengendalikan kekuatan-kekuatan dalam hidup kita, bukan sebaliknya. Dalam pandangan Adler stiap manusia memiliki tujuan untuk beralih dari perasaan inferior menjadi superior.
d.      Ajaran tentang gaya hidup
Gaya hidup ( life style) merupakan suatu cara unik yang digunakan oleh setiap individu untuk menangani perasaan rendah diri dan mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Gaya hidup individu sebagian dipengaruhi oleh komposisi dan pola interaksi dalam keluarga. Grey ( 1998) memandang gaya hidup sebagai suatu yang sangat mendasar dari semua konsep Adler, dan menggambarkannya sebagai totalitas dari semua sikap dan aspirasi individu, suatu perjuangan yang mengarahakan individu untuk mencapai tujuan. Meskipun tujuan tersebut hampir selalu melibatkan superioritas, kompetensi dan penguasaan, setiap orang memiliki imej ( yang seringkali tidak disadari) tentang apa yang menjadi tujuannya. Adler menggunakan istilah fictional finalism untuk menggambarkan tujuan sentral yang diimajinasikan untuk mengarahkan perilaku. Adler yakin bahwa tujuan ini telah terbentuk dengan kokoh pada usia antara enam hingga delapan tahun dan akan tetap konstan di sepanjang kehidupan individu.

e.       Minat sosial
Dari perspektif Adler, perkembangan dapat dijelaskan melalui dinamika psikososial. Tujuan dan gaya hidup individu akan memberikan pengaruh pada cara penyesuaian dirinya. Individu yang dapat menyesuaikan diri pada umumnya memiliki logika pribadi yang merefleksikan minat social, sedangkan individu yang kurang berhasil dalam menyesuiakan diri cenderung lebih mementingkan tujuan mereka sendiri dan kurang memperhatikan kepentingan konteks sosialdan kebutuhan orang lain. Individu dipandang memiliki fithrah sebagai makhluk social, yakni entitas yang peduli dengan konteks social. Jika individu menyadari bahwa dirinya menjadi bagian dari komunitas manusia, maka perasaan inferior, alinasi , dan cemas akan menurun pada gilirannya mereka akan mengembangkan perasaan memiliki dan mencapai kebahagiaan hidup.

F.     IMPLEMENTASI DAN APLIKASI
1.      Implementasi teori adlerian yang meliputi:
a)      Tujuan Konseling
·         Membina hubungan konselor klien
·         Membantu klien  memahami keyakinan – keyakinan perasaan, motivasi dan tujuan yang     menentukan gaya hidupnya
·         Membantu klien mengembangkan  wawasan pemahaman (insight) mengenai gaya hidup dan menyadarkan mereka
·         Reducation
·         Mengembangkan sosial interest individu dengan interest sosial

b)     Proses Konseling
Konselor adrelian memiliki peran yang sangat kompleks dan perlu memiliki banyak ketrampilan, berperan sebagai pendidik, memperkembangkan minat social, dan mengajar klien dengan memodifikasi gaya hidup, perilaku dan tujuannya serta sebagai seorang analis yang harus memeriksa kesalahan asumsi dan logika konseli.
c)      Teknik Konseling
Ketrampilan interpersonal yang meliputi kesanggupan untuk memeberikan perawatan yang tulus, keterlibatan, empati dan teknik-teknik komunikasi verbal maupun non verbal untuk mengembangkan hubungan konseling.
Dorongan. Untuk mendorong konseli konselor perlu memusatkan perhatian pada :
·         Apa yang dilakukan konseli bukan mengavaluasi perilakunya
·         Perilaku sekarang bukan perilaku lampau
·         Perilaku dan bukan pribadi konseli
·          Upaya dan bukan hasil
·         Motivasi instrintik dan bukan ekstrintik
·         Yang dipelajari dan bukan yang tidak dipelajari
·          Apa yang postif dan bukan apa yang negative
Dorongan yang ditambah interpretasi dan konfrontasi atau tantangan guna membantu konseli memperoleh kesadaran tentang gaya hidupnya, mengakui alasan-alasan tersembunyi yang ada dibalik perilakunya, mengapresiasi konsekuensi negative dari perilaku tersebut, dan bekerja untuk mencapai perubahan positif.
Konselor terus memainkan peran aktif untuk mendorong konseli menggunakan pemahamannya guna merumuskan tindakan-tindakan nyata yang mengarah pada perubahan perilaku atau pemecahan masalah. Adler juga merekomondasikan konselor untuk bertindak inovatif dan kreatif dalam memilih menggunakan teknik.

2.      Aplikasi
Aplikasinya disesuaikan dengan tujuan utama dari teori ini.
·      Psikoterapi
Menurut Adler (dalam Alwisol, 2004), psikopatologi merupakan akibat dari kurangnya keberanian, perasaan inferior yang berlebihan, dan minat sosial yang kurang berkembang. Jadi, tujuan utama psikoterapi adalah meningkatkan keberanian, mengurangi perasaan inferior, dan mendorong berkembangnya minat sosial.
Adler yakin bahwa siapa pun dapat mengerjakan apa saja. Keturunan memang sering membatasi kemampuan seseorang, dalam hal ini sesungguhnya yang penting bukan kemampuan, tetapi bagaimana orang memakai kemampuan itu. Melalui humor dan kehangatan, Adler berusaha meningkatkan keberanian, harga diri, dan social interest klien. Menurutnya, sikap hangat dan melayani dari terapis mendorong klien untuk mengembangkan minat sosial di tiga masalah kehidupan; cinta atau sekual, persahabatan, dan pekerjaan. Pendekatannya tersebut telah dielaborasi dengan nama Adlerian Breif Therapy (Corey, 2005).

·       Menggali masa lalu ( Early Recollection )
Menurut Adler, ingatan  masa lalu seseorang selalu konsisten dengan gaya hidup orang an pandangan subyektif orang itu terhadap pengalaman masa lalunya menjadi petunjuk untuk memahami tujuan final dan gaya hidupnya.

·      Mimpi
Gaya hidup juga terekspresikan dalam mimpi. Adler menolak pandangan freud bahwa mimpi adalah ekspresi keinginan masa kecil. Menurut Adler, mimpi bukan pemuas keinginan yang tidak di terima ego tetapi bagian dari usaha si pemimpi untuk memecahkan masalah yang tidak disenanginya atau masalah yang tidak dapat dikuasainya ketika sadar
Jadi, bagi Adler mimpi adalah usaha dari ketidaksadaran untuk menciptakan suasana hati atau keadaan emosional sesudah bangun nanti, yang bisa memaksa si pemimpi melakukan kegiatan yang semula tidak dikerjakan.


G.    KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan
1.      Keyakinan yang optimistis bahwa setiap orang dapat berubah untuk mencapai sesuatu ke arah evolus manusia bersifat positif
2.      Penekanan hubungan konseling sebagai suatu media untuk mengubah klien
3.      Menekan bahwa masyarakat tidak sakit atau salah akan tetapi manusianya yang sakit atau salah.
4.      Menekan bahwa kekuatan sebagai pusat pendorong prilaku
5.      Gagasan ini banyakmempengaruhi pendekatan – pendekatan lain
6.      Berorientasi humanistic
7.      Tingkah lakunya berarah tujuan
8.      Lebih menekankan pada asepek – aspek psikologis sosial
9.      Dasarnya dirancang dalam latar belakang kelompok
10.  Konsep – konsep dasar dan prosedur serta terapnya mudah diikuti
11.  Modelnya dibangun dengan lebih memperdulikan kesesuaiannya untuk menangani orang – orang normal yang bermasalah dari pada terhadap orang – orang yang menderita psikosa.
Kelemahan
1.      Terlalu banyak menekankanpada tilikan intelektual dalam upaya perubahan
2.      Penekanan yang berlebihan pada pengalaman nilai, minat subjektif sebagai penentu prilaku
3.       Meminimalkan factor biologis dan riwayat masa lalu
4.      Terlalu banyak  menekan kan tanggung jawab pada ketrampilan diagnostik konselor
5.      Dari segi presesi kemungkinan untuk di tes dan validitas empiriknya pada pendekatan ini lemah (kurang teliti)
6.      Ada kecenderungan untuk menyederhanakan secara berlebihan terhadap beberapa masalah manusia yang kompleks








BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dalam perkembangannya, teori ini disebut konseling Adlerian, yakni teori yang dikembangkan oleh Adler bersama dengan pengikut-pengikutnya. Teori ini menekankan pada keutuhan (unity) dan keunikan individual. Pemahaman terhadap perilaku dan perkembangan manusia harus dimulai dengan memahami tujuan dan dorongan-dorongan perilakunya, konstelasi keluarga, dan gaya kehidupannya. Teori ini menekankan pada minat social dan tujuan hidup manusia, serta pada analisis kesadaran. Berdasarkan karakteristik tersebut teori Adlerian digambarkan sebagai bersifat socio-teleo-analytic.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar